Viral Aisha Wedding Promosikan Pernikahan di Bawah Umur, Kemenag: Banyak Mudaratnya dan Bertentangan dengan UU

- 11 Februari 2021, 15:52 WIB
Puluhan siswa/siswi SD, SMP, dan SMA se-Provinsi Kepulauan Riau melaksanakan kampanye "Stop Pernikahan Usia Anak" di Gedung Daerah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Puluhan siswa/siswi SD, SMP, dan SMA se-Provinsi Kepulauan Riau melaksanakan kampanye "Stop Pernikahan Usia Anak" di Gedung Daerah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. /ANTARA/Ogen.

PR CIANJUR - Pernikahan di bawah umur menyalahi peraturan perundang-undangan, juga akan berdampak buruk bagi anak, baik secara mental, jiwa, dan fisik. Mereka belum waktunya untuk menikah. 

Sebelumnya, masyarakat dihebohkan soal promosi penyelenggara pernikahan usia 12-21 bagi perempuan. Hal itulah yang kemudian menjadi kontroversi di tengah masyarakat. 

Hal itu ditentang oleh sejumlah pihak termasuk Kementerian Agama yang mengatakan bahwa menikah di bawah umur jelas menyalahi undang-undang dan perlindungan anak.

Baca Juga: Minta Masyarakat Tidak Buat Berita Bohong Soal Wafatnya Ustaz Maaher, Polri: Bisa Terancam Hukuman Pidana

“Penyelenggara Aisha Wedding ini bertentangan dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 dan juga bertentangan dengan perlindungan anak,” kata Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Muharam Marzuki.

Ajakan menikah muda itu sempat viral dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Usia 12-21 adalah usia untuk belajar, meniti karir atau masa depan.

Misalnya ada dalih dari masyarakat yang mengatakan bahwa si anak sudah suka pada suka, atau karena faktor ekonomi keluarga, kemudian menikahkan anaknya, alasan semacam itu dapat dijerat hukum karena menyalahi aturan.

Baca Juga: Saat Libur Imlek Menteri BUMN Erick Thohir Larang Pegawai BUMN Bepergian Luar Kota, Ini Alasannya

Bagi masyarakat yang menikah masih di bawah umur harus ditindak. Selain menyalahi aturan, juga hal itu akan berdampak buruk bagi bangsa dan anak.

Proses pernikahan di Indonesia diatur berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1974 yang menjadi UU Nomor 16 Tahun 2019 dengan batas usia nikah 19 tahun, seperti dikutip Pikiranrakyat-Cianjur.com dari Antara.

“Dengan adanya UU itu, masyarakat diminta untuk mengajukan proses pendaftaran nikah itu pada usia 19 tahun. Itu paling minimal,” kata Muharam.

Usia antara 12-19 adalah masa di mana anak masih harus belajar, menuntut ilmu, memantapkan fisik, mental dan agama. Karena pernikahan harus dengan ilmu dan pikiran yang matang.

Baca Juga: Pola Pengasuhan Anak yang Wajib Diperhatikan di Era Digital, Salah Satunya Memberikan Dukungan Psikologis

Menikah bukan semata-mata karena nafsu dan anak usia di bawah umur masih berada dalam tanggung jawab orang tua. 

Mereka mestinya dibekali pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan sebelum menjalankan rumah tangga.

Peraturan perundang-undangan tidak hanya berlaku bagi masyarakat yang menikah di bawah umur, tetapi bagi mereka yang mengajak atau mempromosikan penyelenggaraan agar perempuan nikah muda, itu juga harus ditindak.

Baca Juga: Inilah Alasan Perbedaan Durasi Tidur Pada Anak dan Orang Dewasa

“Ini banyak mudaratnya, sehingga para orang tua, wali, yang menikahkan itu seharusnya tetap berpegang pada UU Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019. Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah membawa misi negara yang memastikan masyarakat yang menikah di KUA itu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,” tutup Muharam.***

Editor: Ramadhan Dwi Waluya

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkait

Terkini

x